Fenomena wanita tukang selingkuh seringkali melampaui batas logika. Demi memuaskan pasangan gelapnya, ia rela menyerahkan apa saja—mulai dari uang, aset, hingga harga diri. Tanpa pikir panjang, wanita macam ini dengan mudah menyerahkan sertifikat rumah atau aset berharga lainnya untuk dijadikan jaminan utang oleh selingkuhannya. Padahal, di mata pria selingkuhannya, ia tak lebih dari sekadar tempat pelampiasan seksual yang murah; wanita yang sama sekali tak layak untuk dinikahi apalagi dihormati.

"Ssttt... kau dengar? Dia menyerahkan surat rumahnya pada laki-laki itu hanya agar tidak ditinggalkan. Harusnya dia tau diri dan malu berkata dia wanita terhormat," bisik seseorang di balik jendela.

"Iya, eh dengar-dengar sekarang cicilannya macet! Pasangan selingkuhannya kabur, dan sekarang dia malah memaki suaminya karena tidak bisa melunasi utang yang bukan buatannya. Benar-benar busuk!" timpal yang lain sambil berbisik sinis.

Kejutan pahit pun datang saat bisnis atau cicilan selingkuhannya macet. Alih-alih sadar akan kebodohannya, wanita ini justru berbalik menuntut suami sah untuk ikut bertanggung jawab. Ketika sang suami yang jujur—seringkali dari kalangan nomad yang membanting tulang—tak mampu menanggung beban dosa tersebut, si wanita busuk ini akan menggunakan jurus terakhir: gugat cerai.

Ia berkilah, membangun narasi palsu seolah-olah suamilah penyebab hidupnya berantakan. Ia menyalahkan kekurangan finansial suami sebagai pembenaran atas kehancuran yang ia ciptakan sendiri. Padahal faktanya, dialah yang meruntuhkan rumah tangganya dengan menjadi barang rombengan tempat pembuangan ego pria lain.

"Ssttt... lihat dia sekarang berlagak jadi korban. Menggugat cerai suami sahnya karena dianggap tidak mampu, padahal dia sendiri yang menghancurkan segalanya demi lelaki lain. Sungguh wanita tak tahu malu!"