RUNTUHNYA BATAS: KESEMPATAN KEDUA ATAU PERANGKAP BARU?
Oleh: Aleo's Tube Store
Beberapa bulan setelah badai kehancuran itu, kehidupan Bu Yuliati berubah total. Ia kini resmi menjanda setelah Pak Dodik menceraikannya dengan tegas. Hidup menganggur di rumah kontrakan kecil, bayang-bayang masa lalunya sebagai Supervisor sukses terus menghantuinya. Namun, sebuah panggilan telepon tak terduga dari nomor kantor lamanya mengubah segalanya. Itu adalah suara Pak Rizky, sang Kepala Korwil yang dulu memecatnya.
Bu Yuliati, janda manis yang kembali dipanggil ke medan nomads.
π PANGGILAN DI RUANG PRIBADI
Pak Rizky beralasan bahwa target kantor merosot tajam sejak kepergian Yuliati. Tidak ada yang mampu mengelola para kolektor nomads segigih dirinya. Dengan hati berdebar, Yuliati melangkah kembali ke kantor lamanya. Namun, pertemuan itu tidak dilakukan di ruang rapat, melainkan di ruang pribadi Pak Rizky yang tertutup rapat.
Mereka mulai saling berbisik saat pintu sudah terkunci. "Yuliati... aku tahu kamu butuh pekerjaan ini. Dan kantor ini butuh keahlianmu," bisik Pak Rizky sambil menatap lekat bibir manis Yuliati.
"Saya bersedia melakukan apa saja untuk kembali, Pak Rizky. Hidup saya hancur tanpa pekerjaan ini," jawab Yuliati lirih, suaranya serak basah penuh kepasrahan.
π₯ SYARAT TERSEMBUNYI SANG KORWIL
Pak Rizky bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Yuliati. Ia tahu rahasia terdalam Yuliati; ia tahu gairah yang tersembunyi di balik jilbab itu. "Tapi kamu tahu kan Yul, reputasimu sudah cacat. Aku butuh 'jaminan' agar kamu tidak nakal lagi dengan kolektor lain," bisik Pak Rizky tepat di telinga Yuliati.
"Maksud Bapak... Bapak ingin saya melayani Bapak saja?" bisik Yuliati sambil menoleh, hidungnya bersentuhan dengan pipi Pak Rizky.
Tanpa banyak kata, Pak Rizky menarik tangan Yuliati menuju sofa kulit di pojok ruangan. Pengadilan moral yang dulu ia tegakkan seolah sirna berganti nafsu yang sudah lama ia pendam terhadap Supervisor-nya itu. Yuliati, yang kini tak punya sandaran lagi, kembali masuk ke dalam lubang yang sama.
Di ruangan yang kedap suara itu, gairah kembali meledak. Pak Rizky, pria berwibawa itu, ternyata lebih liar dari Pak Irul. "Ternyata benar kata anak-anak... memekmu memang membuat ketagihan," bisik Pak Rizky sambil menghujamkan miliknya yang besar dan kokoh. Yuliati hanya bisa mendesah pasrah, menikmati kentu yang kini menjadi tiket kembalinya jabatannya.
Kembali menjadi Supervisor, namun dengan harga diri yang menjadi taruhan pimpinan.
Hari itu, Bu Yuliati resmi kembali menjabat sebagai Supervisor. Para kolektor lain seperti Pak Suhadi dan Pak Was hanya bisa saling berbisik penuh kecurigaan saat melihat Yuliati keluar dari ruang Pak Rizky dengan wajah yang sedikit berkeringat dan jilbab yang sedikit berantakan.
RUNTUHNYA BATAS: PESONA SANG SUPERVISOR KESAYANGAN
Oleh: Aleo's Tube Store
Kembalinya Bu Yuliati ke kantor membawa atmosfer yang berbeda. Statusnya sebagai janda baru justru membuatnya terlihat semakin manis dan mempesona. Ia kini lebih berani bersolek; kulit sawo matangnya tampak lebih cerah dan glowing, sapuan lipstik merah mudanya selalu tampak basah menggoda, dan busana muslimahnya kini lebih pas di badan, menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang. Setiap kali ia berjalan melewati lorong kantor, aroma parfumnya yang elegan membuat para nomads lapangan menelan ludah.
Bu Yuliati, janda supervisor yang auranya semakin memikat setelah kembali berkuasa.
π PERUBAHAN YANG MENGGODA
Para kolektor senior seperti Pak Suhadi dan Pak Was tidak bisa berhenti memperhatikan setiap gerak-gerik Supervisor cantik ini. Mereka sering tertangkap basah saling berbisik saat Bu Yuliati memberikan instruksi pagi.
"Gila, Was... Bu Yul sekarang makin aduhai saja. Lihat itu, dadanya makin terlihat kencang dibalik bajunya," bisik Pak Suhadi dengan mata yang tak berkedip.
"Iya Di, makin manis dan mempesona. Kayaknya servis dari Pak Rizky bener-bener bikin dia jadi makin subur," jawab Pak Was sambil tertawa kecil penuh maksud.
π₯ PERTEMUAN RAHASIA DI BAWAH MEJA
Namun, pesona Bu Yuliati bukan tanpa alasan. Ia tahu betul siapa yang memberinya kekuasaan kembali. Di dalam ruangannya yang dingin, Pak Rizky kini lebih sering memanggilnya. Alih-alih membahas target bulanan, mereka lebih sering saling berbisik tentang gairah yang harus segera dipadamkan.
"Yul... hari ini kamu cantik sekali. Parfummu bikin aku nggak konsentrasi kerja," bisik Pak Rizky sambil berdiri di belakang kursi Bu Yuliati, tangannya mulai meraba bahu yang halus itu.
Yuliati memejamkan mata, kepalanya bersandar di perut buncit Pak Rizky yang berwibawa. "Ini semua kan buat Bapak... biar Bapak selalu semangat kalau melihat saya di kantor," balas Yuliati dengan suara serak basahnya yang sangat memikat.
Tanpa membuang waktu, Pak Rizky menarik kursi Yuliati menjauh dari meja. Di bawah sorotan lampu kantor yang terang, Pak Rizky membebaskan miliknya yang sudah tegang sedari tadi. Bu Yuliati, dengan senyum manisnya, langsung berlutut di bawah meja kerja. Ia melahap milik sang pimpinan dengan penuh teknik, sebuah pemandangan kontras dengan jilbab anggun yang ia kenakan.
Pesona manis Bu Yuliati yang kini didedikasikan sepenuhnya untuk sang Korwil.
"Ahhh... Yul... hisapanmu memang luar biasa... pantesan Irul sampai gila," desah Pak Rizky sambil memegang kepala Yuliati. Tak lama, semburan cairan hangat kembali membanjiri mulut manis sang supervisor. Yuliati membersihkan sudut bibirnya dengan jari, menatap Pak Rizky dengan tatapan yang sangat mempesona.
RUNTUHNYA BATAS: ANTARA JABATAN DAN DAHSYATNYA HASRAT
Oleh: Aleo's Tube Store
Yuliati membersihkan sudut bibirnya dengan jari, menatap Pak Rizky dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara pengabdian dan ambisi. Ia segera berdiri, merapikan jilbabnya yang sempat tersingkap, lalu kembali duduk di kursi kebesarannya seolah-olah tidak terjadi badai gairah beberapa menit lalu. Kulit sawo matangnya yang mempesona tampak semakin bercahaya terkena keringat tipis.
Pesona Bu Yuliati yang kini menjadi 'simpanan' eksklusif pimpinan kantor.
π€« BISIKAN PERJANJIAN GELAP
Pak Rizky merapikan celananya dan duduk kembali di sofa dengan napas yang mulai teratur. Mereka kembali saling berbisik, memastikan tidak ada telinga di luar ruangan yang menangkap percakapan panas ini.
"Ingat Yul, jabatan Supervisor ini milikmu selama kamu bisa memuaskan dahagaku. Jangan sampai ada kolektor lapangan yang menyentuhmu lagi," bisik Pak Rizky dengan nada posesif.
"Tentu, Mas Rizky... Mas kan tahu, sekarang hanya Mas pimpinan tunggal di hati dan di tubuh saya," jawab Yuliati sambil mengedipkan matanya yang manis menggoda.
⚠️ KECURIGAAN YANG SEMAKIN TAJAM
Namun, di luar ruangan, Pak Suhadi dan Pak Was yang baru saja kembali dari rute nomads mereka, mencium sesuatu yang tidak beres. Mereka berdiri di depan dispenser, tak jauh dari pintu ruang pimpinan, dan mulai saling berbisik penuh selidik.
"Kamu lihat kan, Was? Pak Rizky sering banget kunci pintu kalau ada Bu Yul di dalam. Bau harum parfum Bu Yul makin menyengat keluar ruangan," bisik Pak Suhadi sinis.
"Bukan cuma parfum, Di. Lihat deh, Bu Yuliati sekarang auranya makin mempesona, kayak habis 'disiram' terus sama bos. Pak Irul aja didepak, eh malah bos sendiri yang sikat," timpal Pak Was dengan tawa rendah yang meremehkan.
Tiba-tiba pintu terbuka. Bu Yuliati keluar dengan gaya Supervisor yang angkuh namun tetap terlihat manis. Ia berjalan melewati mereka dengan dagu terangkat. "Pak Suhadi, Pak Was, kenapa masih di sini? Segera selesaikan laporan survei kalian!" perintahnya dengan suara serak basah yang kini terdengar lebih berwibawa.
Kekuasaan membuat pesona Bu Yuliati semakin sulit ditaklukkan kolektor biasa.
Pak Suhadi menatap punggung Yuliati yang menjauh. Ia bertekad mencari celah. Di dalam benaknya, ia berbisik sendiri, "Kalau Pak Rizky bisa, kenapa aku tidak? Aku akan cari bukti kentu mereka dan menjadikannya kartu as untuk mencicipi tubuh manis Supervisor ini."
DI SHARE YA BIAR TAMBAH SEMANGAT BIKIN CERITA DLL!

Komentar Pengunjung: "Wah, Bu Yul bener-bener pinter main kartu ya! Dari satu kolektor ke pimpinan tertinggi demi jabatan!"
Promoter Artikel: "Itulah realita di dunia kerja nomads, Mas! Siapa yang kuat imannya selamat, siapa yang kuat hasratnya... ya jadi Supervisor kesayangan bos!"