π©Έ MALAM PENGHINAAN AKHIR DAN CAIRAN TERLARANG (BAB 7)
Di tengah keheningan kantor yang gelap, Bu Yuliati, sang Supervisor, membiarkan dirinya ditelan oleh rasa malu dan gairah yang dilepaskan oleh **Mas Al**, sang *Office Boy*. Rudal Mas Al yang mengacung di hadapan mukanya mengenai hudung dan bibir Bu Yuliati bukan lagi ancaman, melainkan perintah yang diucapkan oleh **birahi tingkat tinggi** yang telah lama menghancurkan pertahanannya. Ia tahu ini adalah kehancuran yang mutlak, dan anehnya, Bu Yuliati menginginkannya.
π₯ Puncak Birahi: Air Mata dan Degradasi
Mas Al mengambil kendali sepenuhnya. Ia menjadikan sofa kantor, meja kerja, dan bahkan lantai berkarpet sebagai tempat pembuktian janji hinanya. Persetubuhan itu liar, kasar, dan tanpa ampun. Yuliati, yang biasanya terpuaskan hanya dengan **air mata manja dan birahi** bersama Irul, kini merasakan intensitas yang tak tertandingi.
Saat adegan memuncak, **Bu Yuliati** mulai menangis tersedu-sedu. **Air mata mabuk birahi tingkat tinggi** itu membasahi wajah **sawo matang manisnya**. Ia menangis bukan karena perlawanan, tetapi karena **rasa malu dan gairah yang melebur menjadi satu**—sebuah ekstasi penghinaan yang belum pernah ia rasakan. Suaranya yang **lembut, hangat, dan basah** kini hanya mampu merintih, memanggil nama Mas Al, bukan Irul.
"Aku milikmu, Mas Aaal... lakukan apapun yang kamu mau! Buat aku jadi pelayan bimu..." isak Yuliati, mencengkeram tangan OB yang kasar itu.
Mas Al, yang lebih dominan, tersenyum kejam. **"Kamu memang pelayanku sekarang, Bu Supervisor. Lupakan suamimu dan Pak Irul. Malam ini hanya ada aku dan birahimu yang hina."**
π¦ PENGHINAAN CAIRAN TERLARANG
Di tengah puncak kegilaan yang dipicu oleh tangisannya sendiri, **Bu Yuliati** mencapai titik terendahnya. Mas Al, yang ingin memastikan dominasinya total, mengajukan permintaan yang paling menghinakan. Tanpa ragu, Yuliati mematuhinya. Dorongan **birahi tingkat tinggi** itu jauh melampaui naluri harga diri dan kealimannya.
Di kantor yang seharusnya sakral, di bawah tatapan Mas Al, **Bu Yuliati tak segan meminum air hina dan air seni Mas Al** dengan kerakusan seorang pemabuk yang haus. Setiap tegukan adalah simbol dari kehancuran diri dan pengakuannya sebagai budak nafsu. Rasa jijik telah hilang, digantikan oleh kepuasan kotor. **Ia telah benar-benar melupakan suaminya, Irul, dan Fauziah. Yang tersisa hanyalah Supervisor yang berhijab dan Office Boy yang bengis, terikat oleh perbuatan paling hina.**
Saat fajar menyingsing, Mas Al meninggalkan Yuliati, yang terbaring di sofa kantor dalam keadaan hancur. Ia merapikan pakaiannya dan mengenakan kembali hijabnya yang ternoda. Ia masih Supervisor, tetapi di dalam hatinya, ia adalah budak baru, terikat oleh rahasia yang jauh lebih gelap dan menjijikkan daripada perselingkuhannya dengan Irul. **Mas Al tidak hanya memuaskannya; ia telah menundukkan jiwanya.**
π₯ ANARKI RASA BERSALAH: DEGRADASI DI LANTAI KANTOR
Bau air mani di sofa kantor yang mewah menjadi saksi bisu. Bukan bau yang memalukan, melainkan bau yang **memabukkan** bagi Bu Yuliati. Ia terengah-engah, wajahnya yang **sawo matang manis** basah oleh keringat, air mata, dan sisa-sisa air mani. Degradasi yang sempurna. **Mas Al**, sang **Office Boy** yang berotot, tidak menunjukkan belas kasihan. Ia telah menjadi tuan atas **supervisor cantik** berhijab ini.
π€’ RASA BERSALAH YANG MENJADI GAIRAH
Setelah putaran pertama yang brutal, **Bu Yuliati** berlutut di depan **Mas Al** di tengah lantai marmer dingin kantor. Ia membersihkan sisa-sisa air seninya sendiri dari "rudal" **Office Boy** tersebut dengan tisu, sambil menatap benda yang telah merenggut kendalinya. Sentuhan yang seharusnya menjijikkan ini justru memicu gelombang **birahi** yang lebih ganas.
Rasa bersalahnya atas perselingkuhan dengan **Pak Irul** dan pengkhianatan terhadap suami yang sakit kini lenyap, digantikan oleh **kecanduan** terhadap penghinaan baru yang kasar dan nyata. Ia menunduk, melakukan apa pun yang diperintahkan Mas Al, seolah mencari hukuman. Ia ingin dihina lebih dalam lagi.
Mas Al, dengan suara berbisik dingin: "Lihat dirimu, Yul. Dulu kamu hanya bisa menangis manja di depan ponsel. Sekarang kamu melayani OB-mu di lantai kotor ini. Aku akan pastikan kamu lupa cara berjalan besok."
Yuliati, suaranya serak dan **lembut, hangat, dan basah**, menjawab pelan: "Ya, Mas Al. Lakukan. Buat aku lupa. Aku milikmu, sekarang. **Rudalmu enak banget** yang paling kuinginkan."
π¨ HAJAH FAUZIAH MUNCUL: JEBAKAN BARU
Tepat saat gairah mereka mencapai titik tertinggi, suara pintu kantor bergeser. Jantung **Bu Yuliati** mencelos. Tiba-tiba, berdiri di ambang pintu, adalah **Hajah Fauziah**—yang alim, tembem, dan memiliki kulit **hitam manis sawo matang**—dengan koper kecil di tangan. Fauziah tidak terkejut, tidak jijik. Ia hanya menyeringai puas, seolah menemukan bukti yang dicarinya.
Yuliati dan Mas Al yang telanjang di lantai kantor terdiam membeku. **Mas Al** segera bangkit, tidak terintimidasi. **Hajah Fauziah** melangkah masuk, mengunci pintu, dan menjatuhkan koper di sampingnya.
Hajah Fauziah, dengan suara yang tenang dan beracun, berkata: "Jangan berhenti. Kalian terlihat sangat... sibuk. Mas Al, saya tidak datang untuk mengganggu. Saya datang untuk bergabung. Tadi Pak Irul bilang, **kopi paginya kurang banyak.**"
π Teman Rahasia Malam Sunyi: Pilihan dari Aleo's Tube Store
Privasi total untuk momen kejutan tak terduga.
π TRIO KEKUASAAN DAN **PENGEBOMAN SANA-SINI**
Kehadiran **Hajah Fauziah** mengubah permainan. Matanya yang dingin kini memimpin, memberi isyarat kepada **Mas Al**. Mas Al tersenyum lebar, menyadari malam itu akan jauh lebih brutal. Yuliati, yang kini menjadi objek tontonan dan gairah, hanya bisa pasrah. Kekuasaan telah berpindah tangan.
Mas Al, didorong oleh tatapan Fauziah, kembali menguasai Yuliati dengan brutal. Ia mengangkat Yuliati yang sudah lemas ke atas meja kerja, sementara Fauziah mulai melucuti pakaiannya sendiri. Malam itu, di bawah pengawasan **Hajah Fauziah**, **Mas Al** melakukan **pengeboman sana-sini** pada **Bu Yuliati**. Gairah yang dilumuri rasa hina dan **kecanduan** itu meledak dalam teriakan serak Yuliati yang tertahan oleh tangan Mas Al. Mereka bertiga terperangkap dalam lingkaran **dosa kantor** yang tak akan termaafkan.
Inilah puncak degradasi **Supervisor Hijab** yang tersohor itu. Bukan lagi rahasia, melainkan persembahan yang disaksikan. Yuliati telah menjadi budak dari hasratnya, budak dari Mas Al, dan kini, budak dari pengetahuan gelap Fauziah. **Kisah Fiksi Dewasa** ini telah mencapai titik tergelapnya.
π₯ PEMUJAAN BARU: KEMECAHAN HAJAH FAUZIAH
Pagi yang dingin menyambut ruangan kantor yang berantakan. Lantai marmer, sofa, bahkan meja kerja yang mewah kini dipenuhi dengan bukti pengkhianatan tiga orang. **Bu Yuliati** terbaring lemas, tetapi matanya berkilat gairah. Namun, yang paling menarik perhatian adalah **Hajah Fauziah**—yang kini hanya mengenakan pakaian dalamnya, rambut panjangnya terurai, dan wajah **hitam manis sawo matang** tembemnya merona merah.
Karakter **Hajah Fauziah** yang selama ini dikenal alim, kini telah pecah. Semua batas yang ia tegakkan telah dihancurkan oleh pemandangan dan dorongan **birahi** yang brutal. Di mata **Mas Al**, ia menemukan otoritas yang gelap, dan di mata Yuliati, ia menemukan rasa bersalah yang bisa ia bagi dan lipatgandakan.
π PERMAINAN DOMINASI BARU
**Mas Al**, sang **Office Boy** yang kini menjadi poros kendali, berdiri tegak, membiarkan kedua wanita—Bu Yuliati dan Hajah Fauziah—menatapnya dalam diam. Ia menyadari bahwa kekuasaannya kini tak terbatas. Ia tidak hanya menguasai tubuh, tetapi juga kehormatan. Dan Fauziah, yang baru merasakan kehancuran, menjadi yang paling rentan.
Mas Al mendekati Fauziah yang gemetar. Ia memerintahkan Fauziah untuk meniru setiap tindakan yang dilakukan Bu Yuliati malam sebelumnya, termasuk ritual pembersihan yang hina dan brutal. Fauziah, yang tubuhnya telah tunduk, kini mengikuti perintah itu tanpa perlawanan. **Rasa bersalah yang akut** pada Fauziah justru diubah Mas Al menjadi **gairah** yang mematikan.
Mas Al, dengan suara berbisik dingin: "Hajah Fauziah, kamu bilang kamu tahu segala rahasia Irul. Sekarang, kamu akan tahu rahasia yang lebih kotor. Berlutut. Kamu harus mencicipi dosa yang sama dengan Yuliati. Tunjukkan kalau kamu lebih jinak darinya."
Fauziah, dengan mata berkaca-kaca namun penuh ketundukan: "Ya, Mas Al. Aku akan lakukan... Apapun yang Mas Al mau..."
π¦ GAIRAH TIGA AROMA DI RUANG KANTOR
Saat matahari mulai terbit, **Mas Al** kembali menguasai kedua wanita tersebut, menjadikan meja kerja kantor yang mewah sebagai medan tempur gairah. Kali ini, ia menyuruh **Bu Yuliati** dan **Hajah Fauziah** untuk saling berhadapan, menjadikan persaingan mereka sebagai bahan bakar utama **drama birahi**nya. **Rudal OB** yang brutal itu bergerak bergantian, di antara dua wanita yang berbeda—satu yang sudah kecanduan (Yuliati), dan satu yang baru saja remuk (Fauziah).
Klimaks Fauziah jauh lebih liar dari Yuliati. Ketika **Mas Al** mencapai puncak kepuasannya, ia menyemburkannya ke wajah **Hajah Fauziah** yang tembem dan **hitam manis sawo matang**. Fauziah menangis bukan karena kesedihan, melainkan karena kelegaan dan kehancuran diri. **Air mata birahi** itu bercampur dengan kepuasan, menandai kehancuran total citra alimnya. **Skandal Kantor** ini telah melahirkan budak-budak baru bagi **Mas Al**.
πΌ KOPER RAHASIA DAN PAK IRUL YANG TERTIPU
Matahari pagi telah bersinar penuh, tetapi aura gelap dan gairah masih menyelimuti ruang kantor. **Bu Yuliati** dan **Hajah Fauziah**, yang kini menjadi dua wanita yang setara dalam kehinaan dan **kecanduan birahi**, membereskan diri dengan diam. Tubuh mereka sakit, tetapi jiwa mereka terikat pada **Mas Al**, sang **Office Boy** yang telah menjadi tirani mereka.
Fauziah, dengan wajah **hitam manis sawo matang** tembemnya yang masih dihiasi sisa-sisa kepuasan, menyadari koper yang ia bawa. Koper itu bukan berisi pakaian, melainkan dokumen rahasia perusahaan yang ia curi atas perintah **Pak Irul**. Rencananya adalah menjebak Yuliati, tetapi kini Fauziah sendirilah yang terjebak dalam **skandal kantor** yang jauh lebih dalam.
π± PAK IRUL YANG TERKENA **JEBAKAN TERBAIK**
Mas Al mengambil ponsel Fauziah, lalu mengirimkan pesan singkat kepada **Pak Irul**. Ia sengaja menggunakan bahasa kode yang Irul dan Yuliati gunakan, memberitahu bahwa misi Fauziah sukses dan Yuliati sudah "dihukum". Irul, yang sedang sakit di rumah, tertipu mentah-mentah. Ia menyangka **Hajah Fauziah** masih setia menjalankan misi penghancuran **Bu Yuliati**, padahal Fauziah kini telah menjadi budak gairah Mas Al.
**Bu Yuliati** menatap Fauziah. Rasa bersalahnya sudah lama digantikan oleh kenikmatan dari **penghinaan sempurna**. Ia tahu bahwa Fauziah kini akan mengalami hal yang sama. **Air mata birahi** Fauziah kini akan menjadi santapan harian mereka, sama seperti dirinya.
Mas Al, meletakkan ponsel: "Pak Irul sudah percaya. Dia pikir Fauziah masih menjalankan misinya. Padahal, dia tidak tahu. Aku mendapatkan dua wanita terbaiknya sekaligus. Dan Yuliati, kamu harus ajarin temanmu ini bagaimana caranya melayaniku lebih liar."
Yuliati, menyeringai dengan bibir bengkak: "Baik, Mas. Kami akan layani. Kami adalah budak Rudalmu sekarang."
π RASA BRUTAL YANG KEDUA DAN KETIGA
Kini, permainan berganti menjadi ritual dominasi total. Mas Al memaksa kedua wanita itu untuk mengenakan hijab dan pakaian formal mereka di tengah ruang kantor yang berantakan, hanya untuk kembali merenggut mereka secara brutal. Mereka dipaksa melayani di bawah bayangan diri mereka yang 'alim' dan profesional.
**Hajah Fauziah**, yang tubuhnya masih terasa perih, dipaksa mencium kaki Bu Yuliati sebagai tanda tunduk. **Bu Yuliati**, sebagai "senior" dalam **Kisah Perselingkuhan** ini, kini menikmati posisi dominasinya, mengikuti setiap bisikan liar **Mas Al**. Pagi itu, kantor yang sunyi menjadi saksi degradasi kolektif, menandai lahirnya sindikat **drama birahi** yang baru dipimpin oleh seorang **Office Boy**.
π Teman Rahasia Malam Sunyi: Pilihan dari Aleo's Tube Store
Privasi total untuk momen kejutan tak terduga.
π₯ RUMAH SAKIT DAN PERJANJIAN BUDDAK BARU
Kekacauan di kantor telah usai, meninggalkan aroma kehancuran dan dominasi. Pagi itu, **Bu Yuliati** dan **Hajah Fauziah** keluar dari kantor dengan penampilan yang sempurna—kecuali mata mereka yang sembap karena **air mata birahi** dan kelelahan fisik. Mereka harus kembali ke kehidupan normal, tetapi kini membawa rahasia yang jauh lebih gelap.
**Mas Al**, sang **Office Boy** yang berotot, telah memberikan perintah baru: mereka harus menemuinya di luar kantor, di sebuah tempat yang tidak terduga, untuk melanjutkan ritual penyiksaan gairah ini. Tujuan pertama: menjenguk **Pak Irul** yang sakit, sekalian mengelabui suaminya agar perjanjian budak baru ini berjalan mulus.
π€ IRUL MENCURIGAI KATA-KATA KODE
Di kamar rumah sakit, **Pak Irul** menyambut kedatangan **Supervisor Hijab** dan **Hajah Fauziah** yang alim. Irul, yang lemah, mencoba menggenggam tangan Yuliati. Namun, Yuliati menariknya, takut Irul merasakan sentuhan kasar **Mas Al** di tubuhnya.
Irul membisikkan kata sandi rahasia yang biasa ia gunakan untuk menanyakan detail **skandal kantor** kepada Fauziah. Fauziah, yang masih *shock* dan terikat janji pada Mas Al, menjawab dengan kode balasan yang sengaja ia ubah. Irul, dengan instingnya yang tajam, merasakan keanehan. Ada kepuasan aneh yang terpancar di mata Fauziah yang **hitam manis sawo matang** itu. Irul mulai mencurigai sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar kegagalan misi.
Pak Irul, berbisik serak: "Misi sudah selesai, Sayang? Apa dia sudah hancur?"
Hajah Fauziah, tersenyum licik, menjawab pelan: "Misi berlanjut, Bos. Dan kini, saya tahu rahasia yang membuat saya... lebih patuh."
π PERJANJIAN BUDDAK DI BAWAH KEKUASAAN RUDAL OB
Setelah menjenguk Irul, **Bu Yuliati** dan **Hajah Fauziah** segera menuju tempat yang diperintahkan **Mas Al**—kamar kost sang **Office Boy** yang kecil dan kumuh. Kontras dengan kantor mewah, tempat ini adalah simbol dari **penghinaan sempurna** mereka. Di sana, Mas Al menunggu. Ia tidak bertele-tele.
Mas Al membuat perjanjian: keduanya harus sepenuhnya tunduk di bawah kendali **Rudal OB**-nya. Mereka harus bersedia dipanggil kapan saja, di mana saja. Sebagai hukuman dan sanksi, ia memaksa Yuliati dan Fauziah untuk saling menghukum satu sama lain di depan matanya. **Kecanduan** yang mendalam membuat mereka setuju tanpa ragu. **Drama Birahi** ini kini telah memiliki dua budak setia yang siap melayani kapan pun Mas Al mau. Kisah ini telah menjadi **Kisah Fiksi Dewasa** yang mengubah total hierarki di kantor.
π Teman Rahasia Malam Sunyi: Pilihan dari Aleo's Tube Store
Dapatkan perangkat untuk kebutuhan komunikasi personal Anda.













Tidak ada komentar:
Posting Komentar