Negara Khayalan: Ketika "Orang Bodoh" Berlagak Pintar di Kursi Parlemen
Inilah tragedi terbesar kita: Orang bodoh yang berlagak pintar. Hanya karena pandai menjilat dan memiliki koneksi, mereka berhasil menduduki kursi parlemen tanpa kompetensi sedikit pun. Akibatnya, kita hidup di negara yang terasa seperti khayalan sial—ada di peta, tapi tidak hadir saat rakyat menderita.
Kolotisme dan Akhir dari Ketololan
Selama Indonesia dipimpin oleh orang-orang kolot yang lebih mengutamakan loyalitas buta daripada kecerdasan, kita akan terus berakhir dalam lingkaran ketololan. Di negara maju, pemimpin dipilih karena visi dan solusi teknis. Di sini, pemimpin dipilih karena seberapa pandai mereka bersandiwara.
Pejabat adalah teknokrat. Salah kebijakan? Mundur karena malu. Pajak kembali ke rakyat.
Pejabat adalah penjilat. Salah kebijakan? Cari kambing hitam atau buat aturan baru untuk memeras rakyat.
Apakah kita akan terus diam? Ataukah kita akan mulai sadar bahwa sistem ini harus direvolusi secara mental dan sistemik sebelum semuanya terlambat?
Bangun Kemandirian Ekonomi dengan Produk Unggulan dari Aleo's Tube Store.
Kita Tidak Bisa Berharap pada Pejabat, Tapi Kita Bisa Berharap pada Diri Sendiri!
Ruang Provokasi (Pro vs Kontra):
Promotor (Pendukung Status Quo): "Anda terlalu pesimis! Pemerintah sedang berusaha. Membangun negara tidak semudah membalik telapak tangan. Kita harus tetap menghormati pemimpin yang sudah dipilih sah secara hukum!"
Pengunjung (Kontra): "Hormat pada pencuri berdalil? Hukum mana yang Anda maksud? Hukum yang dibuat untuk melindungi mereka sendiri? Jangan bodohi kami lagi dengan narasi 'sedang berusaha' sementara perut rakyat makin melilit karena pajak yang tak jelas arahnya!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar