Dilema Sri Mulyani: Direkrut Bill Gates Saat Rakyat Tercekik Pajak—Prestasi Dunia atau Kegagalan Domestik?
Ditulis oleh: Aleo's Tube Store | Edisi Khusus Analisis Ekonomi 2026
Ilustrasi: Kontras antara panggung filantropi global dan beban ekonomi rakyat kecil.
Baru-baru ini, dunia dikejutkan dengan kabar mantan Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, resmi bergabung ke dalam Dewan Pengurus Gates Foundation milik Bill Gates. Secara global, ini adalah pencapaian luar biasa. Namun, di tanah air, kabar ini disambut dengan kritik pedas: "Jika beliau begitu pintar bagi dunia, mengapa kemiskinan tak kunjung tuntas dan pajak justru semakin mencekik leher rakyat?"
1. Mengapa Bill Gates Memilih Sri Mulyani?
Secara ilmiah dan profesional, Bill Gates tidak memilih sembarang orang. Penunjukan ini didasarkan pada rekam jejak teknis beliau di panggung internasional:
- Mantan Managing Director World Bank: Beliau memahami seluk-beluk keuangan global untuk misi kemanusiaan.
- Manajemen Krisis: Dianggap berhasil menjaga stabilitas ekonomi makro Indonesia selama pandemi dan krisis energi dunia.
- Jaringan Elit: Mampu melobi pemimpin negara lain untuk mendanai program kesehatan dan kemiskinan dunia.
2. Realitas Pahit: Pajak Mencekik vs Kemiskinan
Di balik tepuk tangan dunia, masyarakat Indonesia merasakan beban fiskal yang sangat berat. Aleo's Tube Store menyoroti beberapa poin yang dianggap sebagai kegagalan dalam berinovasi bagi rakyat kecil:
Pajak yang Agresif: Kenaikan PPN menjadi 11% (menuju 12%), pajak kendaraan, hingga pajak belanja harian dianggap sebagai jalan pintas untuk mengisi kas negara tanpa memikirkan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
Dilema Kemiskinan: Meski triliunan rupiah uang pajak dikumpulkan, pengentasan kemiskinan terasa berjalan di tempat. Masalah struktural, biaya logistik yang mahal, dan efisiensi anggaran yang rendah menjadi alasan mengapa "kepintaran" di atas kertas belum terasa di meja makan rakyat.
3. Data Bicara: Indonesia vs Negara Tetangga (ASEAN)
Mari kita lihat perbandingan transparan berikut untuk melihat posisi beban pajak kita:
| Indikator | Indonesia | Thailand | Malaysia |
|---|---|---|---|
| PPN / GST | 11% - 12% | 7% | 6% (SST) |
| Tax Ratio | ~10% (Basis Sempit) | ~14% (Basis Luas) | ~12% |
Data menunjukkan bahwa Indonesia sangat agresif dalam menaikkan pajak konsumsi (PPN) dibandingkan negara tetangga. Hal inilah yang membuat masyarakat merasa "terperas" karena barang kebutuhan pokok terus merangkak naik akibat pajak.
Kesimpulan: Prestasi atau Ironi?
Bergabungnya Sri Mulyani ke Gates Foundation adalah bukti kualitas individu Indonesia di mata dunia. Namun, bagi masyarakat luas, ini menjadi pengingat pahit bahwa prestasi makro dan pengakuan global seringkali tidak sejalan dengan kesejahteraan mikro.
Kita butuh pemimpin ekonomi yang tidak hanya "pintar" mengumpulkan pajak, tapi juga jenius dalam menciptakan keadilan sosial tanpa harus mencekik leher rakyatnya sendiri. Bagaimana menurut Anda?
"Ilmu ekonomi harus memiliki hati nurani. Jika rakyat kecil semakin sulit bernapas karena beban pajak, maka ada yang salah dengan cara kita mengelola negara." - Aleo's Tube Store
Tidak ada komentar:
Posting Komentar