π΅️ INTEROGASI DALAM BISIKAN
Setelah Pak Rizky pergi dengan wajah penuh tanda tanya, Pak Irul dan Bu Yuliati kembali saling berbisik di sudut ruangan. Kecemasan mulai merayapi hati Yuliati, namun gairah yang baru saja padam kembali memercik saat melihat dada Pak Irul yang bidang.
"Mas... Pak Rizky kayaknya curiga. Lihat tadi matanya melirik ke arah meja," bisik Yuliati gemetar.
"Tenang, Yul... dia nggak punya bukti. Tapi lihat itu, mejamu basah semua karena crot-ku tadi," jawab Pak Irul sambil menyeringai nakal.
Yuliati buru-buru mengambil tisu, mengusap sisa-sisa kenikmatan yang menempel di permukaan meja kayu. Tanpa sengaja, setetes cairan putih juga mengenai manset tangan baju muslimahnya. Ia tidak menyadarinya, sampai malam tiba ketika ia harus berhadapan dengan suaminya, Pak Dodik.
π DINGINNYA RUMAH DAN JEJAK PANAS
Di rumah, Pak Dodik duduk di kursi ruang tamu, kelelahan setelah seharian menjadi nomads di jalanan mencari nasabah. Bu Yuliati datang membawakan teh, namun pikirannya masih melayang pada liarnya goyangan Pak Irul. Saat ia menaruh cangkir, Pak Dodik menangkap pergelangan tangannya.
"Yul, bau apa ini di bajumu? Kok amisnya aneh, bukan bau parfum biasanya," bisik Pak Dodik dengan suara seraknya, matanya menyipit menatap bercak yang sudah mengering di manset istrinya.
Yuliati mematung. Jantungnya berdegup kencang. Di bawah lampu ruang tamu yang remang, ia mencoba mencari alasan. "Oh, ini... tadi ada anak buah yang tumpah susu saat laporan, Mas," bisiknya berbohong, suaranya terdengar tidak stabil.
Namun Pak Dodik tidak bodoh. Sebagai kolektor senior, ia tahu bau keringat laki-laki lain. Sementara itu, di luar rumah, Pak Irul ternyata belum benar-benar pergi. Ia lewat di depan rumah Yuliati dengan motornya, sengaja membunyikan klakson pelan—sebuah kode rahasia untuk kentu selanjutnya yang lebih berani.
Antara kewajiban sebagai istri dan dahaga birahi yang tak terpuaskan.
Yuliati kembali saling berbisik di dalam hatinya sendiri. "Duh Mas Irul, kenapa malah klakson... kalau Pak Dodik tahu, hancur karirku sebagai Supervisor." Tapi di sisi lain, bayangan kontol Pak Irul yang besar dan berurat kembali membuat selangkangannya berdenyut basah.
RUNTUHNYA BATAS: PEMBURUAN DI BALIK KABUT PAGI
Oleh: Aleo's Tube Store
Kecurigaan Pak Dodik sudah di ubun-ubun. Sebagai kolektor nomads kawakan, instingnya dalam melacak jejak nasabah kini ia gunakan untuk melacak istrinya sendiri. Pagi itu, ia berpura-pura pamit berangkat survei lebih awal ke wilayah pelosok, namun nyatanya ia bersembunyi di balik tikungan jalan, memantau gerak-gerik Bu Yuliati.
Insting nomads Pak Dodik kini diarahkan untuk membongkar pengkhianatan istrinya.
π️ PELACAKAN DI JALANAN BERDEBU
Tak lama, sebuah motor matic meluncur keluar dari rumah. Bu Yuliati tampak rapi dengan busana muslimah berwarna krem, namun ia tidak menuju ke arah kantor. Di sebuah persimpangan sepi, ia berhenti. Dari arah berlawanan, muncul Pak Irul dengan motor sport-nya. Tanpa canggung, Bu Yuliati langsung pindah ke boncengan Pak Irul, tangannya merayap masuk ke dalam jaket pria berbulu itu.
Pak Dodik yang mengikuti dari jarak jauh mulai saling berbisik dengan amarah di dalam hatinya. "Kurang ajar... jadi benar dugaanku. Istriku kentu sama anak buahku sendiri!" desisnya sambil mengepulkan asap rokok, tangannya gemetar menahan amarah yang membakar.
Motor itu melaju menuju sebuah penginapan kelas melati di pinggiran kota, tempat favorit para pekerja lapangan yang ingin "istirahat sejenak". Pak Dodik memarkir motornya di seberang jalan, mengendap-endap seperti pencuri, memperhatikan istrinya masuk ke kamar nomor 07 bersama Pak Irul.
πͺ BISIKAN DI BALIK PINTU NOMOR 07
Pak Dodik mendekatkan telinganya ke pintu kayu yang tipis itu. Di dalam, ia mendengar suara yang selama ini hilang dari ranjangnya. Suara basah, suara desahan, dan suara tamparan kulit yang saling beradu. Mereka sedang saling berbisik di tengah pergulatan panas.
"Aduh Mas Irul... lebih dalam lagi... kontolmu bener-bener bikin aku lupa kalau punya suami," bisik Yuliati dengan suara serak basahnya yang mendesah nikmat. "Tenang Yul... mumpung suamimu si tua itu lagi di hutan, kita habiskan sperma ini di dalam memekmu," balas Irul dengan napas yang terengah-engah.
Mendengar itu, darah Pak Dodik mendidih. Ia melihat melalui celah ventilasi kecil di atas pintu. Di sana, istrinya yang selama ini ia kenal santun, sedang menungging tanpa sehelai benang pun, sementara Pak Irul menghujamkan miliknya yang besar dan hitam dari belakang. "PLOK! PLOK! PLOK!" bunyi itu bagaikan palu yang menghantam jantung Pak Dodik.
Pengkhianatan telanjang bulat yang disaksikan langsung oleh sang suami.
Saat Pak Irul mulai mempercepat goyangannya untuk mencapai puncak, Pak Dodik tidak tahan lagi. Ia mundur dua langkah, menyiapkan seluruh kekuatannya. "Sekarang kalian harus mampus di tanganku!" bisiknya dengan penuh dendam.
BRAAAKKK!!! Pintu kamar 07 hancur ditendang oleh Pak Dodik. Bu Yuliati menjerit histeris, sementara Pak Irul kaget setengah mati, kontolnya yang masih berlumuran cairan memek Yuliati langsung lemas seketika.
DI SHARE YA BIAR TAMBAH SEMANGAT BIKIN CERITA DLL!
RUNTUHNYA BATAS: PENGADILAN MORAL DI KANTOR KORWIL
Oleh: Aleo's Tube Store
Kabar penggerebekan di penginapan melati menyebar lebih cepat dari pencairan dana Map order. Pagi itu, kantor elektronik swasta di Kota L mencekam. Pak Dodik datang dengan mata merah dan wajah penuh amarah, sementara Bu Yuliati hanya bisa tertunduk dengan jilbab yang kusut, air mata terus mengalir di pipi manis sawo matangnya. Pak Irul? Ia tampak babak belur di sudut ruangan setelah menerima bogem mentah dari sang kolektor senior.
Supervisor manis yang kini menjadi buah bibir di kalangan para nomads lapangan.
π£️ BISIK-BISIK BERACUN DI RUANG TUNGGU
Di luar ruangan pimpinan, para kolektor seperti Pak Suhadi dan Pak Was berkumpul. Mereka saling berbisik tajam, menghakimi apa yang terjadi pada atasan mereka.
"Sudah kuduga, Was. Aroma amis di ruang arsip kemarin itu bukan tumpahan susu, tapi tumpahan birahi!" bisik Pak Suhadi dengan nada sinis.
"Gila ya, Bu Yuliati yang kelihatan muslimah santun ternyata hobinya melahap kontol anak buah di penginapan. Kasihan Pak Dodik, sudah tua dikhianati begitu kejam," timpal Pak Was sambil menggelengkan kepala.
π¨⚖️ KEPUTUSAN TEGAS PAK RIZKY
Di dalam ruangan, Pak Rizky selaku Kepala Korwil duduk dengan raut wajah keras. Ia memandang Map order yang kini terasa kotor karena skandal ini. Suasana begitu sunyi hingga suara isak tangis Bu Yuliati terdengar seperti sayatan.
"Bu Yuliati, Anda adalah Supervisor. Pak Irul, Anda adalah kolektor lapangan. Kalian berdua telah mencoreng nama baik perusahaan dan menghancurkan martabat seorang suami yang juga rekan kerja kita," tegas Pak Rizky.
Pak Dodik mendesis pelan, ia saling berbisik penuh kebencian di depan muka Pak Irul. "Puas kamu kentu sama istriku? Puas kamu kasih sperma di dalam rahimnya saat aku kerja keras di jalanan?" Pak Irul hanya diam, tidak berani menatap mata pria yang telah ia hancurkan rumah tangganya.
Keputusan pun dijatuhkan. Bu Yuliati dan Pak Irul dipecat secara tidak hormat hari itu juga. Jabatan Supervisor yang ia rintis dengan susah payah runtuh hanya karena dahaga birahi yang tak terkendali. Saat mereka berjalan keluar kantor, tatapan jijik dari seluruh staf mengikuti langkah mereka.
Karir cemerlang yang hancur karena skandal panas di jalur nomads.
Di parkiran, Yuliati sempat saling berbisik terakhir kalinya dengan Irul sebelum mereka berpisah selamanya. "Mas... setelah ini kita bagaimana?" tanya Yuliati lirih. "Jangan tanya aku, Yul. Urus saja urusanmu sendiri, aku sudah kehilangan segalanya!" jawab Irul ketus sambil memacu motornya pergi, meninggalkan Yuliati yang kini benar-benar hancur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar