π₯ AKU JALANG KANTOR: TURUK DISIKSA DI PENGINAPAN GRESIK (BAB 2)
Perjalanan dinas ke **Gresik** yang direncanakan Bu Yuliati (41) dan Pak Irul (45) adalah pemenuhan janji dosa. Mereka berhasil lolos dari pengawasan dan kini berada di sebuah kamar penginapan tua yang pengap, jauh dari mata **Suami yang sakit** dan **Sekretaris bermata tajam, Siska.** Dua hari penuh tanpa batas waktu ini didedikasikan untuk **birahi tergelap** mereka.
π PENYIKSAAN ANAL: KENIKMATAN AKIBAT KEKEJAMAN
Bu Yuliati berbaring telungkup di ranjang, bokongnya yang **sawo matang dan tembem** menungging tinggi. Ia tidak lagi memohon. Ia **menuntut** kekejaman Irul. Irul, dengan **Kontol Pendeknya yang keras**, melumuri **lubang turuk** Bu Yuliati dengan krim panas khusus yang sengaja ia bawa. Bau krim itu bercampur dengan bau kamar yang lembap, menciptakan suasana yang kotor dan erotis.
**Yuliati (terengah):** "Siksa aku, Irul! Aku rindu **turukku robek oleh Kontolmu**! Aku bosan dengan suami yang baik! **Jadikan aku jalang kantormu, sekarang!**"
Irul tertawa jahat. **"Baik, Nyonya Jalang! Aku akan merobekmu sampai kau tak bisa duduk!"** Ia menekan dengan keras, menghantam masuk tanpa ampun. Jeritan Bu Yuliati teredam bantal penginapan. Irul mulai menghantam dengan kecepatan gila, setiap dorongan mencapai jauh di dalam **turuk**, menyebabkan Bu Yuliati mengejang tak terkontrol.
Di tengah hantaman brutal itu, Irul membungkuk, menjepit kepala Yuliati, dan berbisik cabul, suaranya parau karena nafsu. **"Suamimu sedang makan obat di rumah, tapi kau di sini, turukmu kuisi penuh sampai meler! Kau pantas diceraikan karena lubangmu ini!"**
π§ FINAL CROTS: PENGKHIANATAN TOTAL
Gerakan Irul semakin kasar dan tak terkendali. Bu Yuliati, dengan air mata dan keringat membasahi bantal, mencapai klimaksnya. **Organ intimnya berkedut hebat, lubang turuknya mencengkeram Kontol Irul sekuat tenaga,** seolah ingin menghancurkannya.
**Yuliati:** "Irul! Aku **crot di pantat**! Crot! Jangan tahan! **Crot di lubang kotor ini!** Aku mau baumu di Gresik!"
**Irul (mengaum):** "Ini untukmu, jalang! **Crot penuh!** Dengar suara muntahannya!"
Dengan raungan terakhir, Irul **menumpahkan seluruh isinya ke dalam lubang turuk Bu Yuliati**. Cairan kental yang panas membanjiri bagian terdalam lubang itu. Rasa sakit bercampur kenikmatan membuat Bu Yuliati terkulai lemas, tubuhnya gemetar karena kelelahan. **Bau busuk dosa dan pembalasan birahi** memenuhi kamar penginapan Gresik yang menjadi saksi pengkhianatan total itu.
Setelah selesai, Irul membalikkan Bu Yuliati. Ia menyeka sisa cairan yang meluber dari **turuk** Bu Yuliati, lalu mencium bibirnya dengan gairah yang buas. **"Kau milikku, Yul. Tidak ada yang akan percaya betapa kotor dan gilanya kau di bawah pakaian kerjamu."**
π KETERGANTUNGAN BERACUN: HUKUMAN YANG DINANTI
Setelah mandi bersama yang singkat dan buru-buru, Bu Yuliati kembali mengenakan pakaiannya. Ia melihat ke cermin, bukan lagi melihat wanita alim, melainkan seorang budak birahi yang sepenuhnya bergantung pada kekejaman dan Kontol Irul. Ia tahu bahwa dua hari di Gresik akan menjadi siklus tiada akhir penyiksaan anal dan kepuasan yang brutal.
**Kecemburuan terhadap Hajah Fauziah telah mendorongnya ke batas paling gelap, dan ia menyukainya.** Ia tidak akan pulang sampai ia merasa sepenuhnya "bersih" dari sisa-sisa suami dan tanggung jawabnya. Hanya di kamar penginapan tua ini, dengan **Kontol Pendek** Pak Irul yang selalu siap menghantam, Bu Yuliati merasa dirinya benar-benar hidup. Inilah risiko petualangan bagi para **Nomads** yang melintasi batas moral.
π TANTANGAN JALANG JILBAB: PERANG DINGIN DENGAN HAJAH FAUZIAH
Bu Yuliati kembali ke kantor setelah dua hari penuh kekejaman birahi di **Penginapan Gresik**. Ia kembali dengan aura keangkuhan yang palsu. Ia merasa superior, karena ia telah melakukan hal tergelap yang tak mungkin dilakukan wanita manapun, dan ia menyukainya. Namun, mata **Hajah Fauziah** (45), **Janda alim berhijab panjang** dengan tubuh **tembem dan manis** yang telah 10 tahun ditinggal mati suaminya, menyambutnya dengan tatapan yang dingin dan penuh makna.
π§ BISIKAN BERACUN DARI HAJAH FAUZIAH
Di lorong sepi menuju toilet kantor, Hajah Fauziah menyusul Bu Yuliati. Ia berbisik, suaranya pelan namun penuh racun, seolah hanya Irul dan Yuliati yang mengetahui kodenya. Tubuh **tembem dan manis** yang tersembunyi di balik busana syar'i-nya kini menjadi senjata ancaman.
**Hajah Fauziah:** "Bu Yuliati, dengar-dengar perjalanan ke Gresik-nya **sangat berhasil** ya? Saya dengar Pak Irul sampai harus membersihkan kamar mandi berkali-kali. **Baunya**... pasti menyengat sekali, Bu."
Darah Bu Yuliati mendidih. Fauziah tahu! Bukan hanya tahu, tapi ia mengejeknya, secara terselubung mengacu pada adegan **Anal Brutal** di Gresik. Yuliati, wanita sawo matang yang kini kecanduan dosa, tidak bisa mundur. Ia harus menunjukkan dominasinya.
**Yuliati membalikkan badan, menatap Fauziah dengan tatapan yang kini dingin dan buas.** "Kamu ingin tahu baunya, Fauziah? Baik. Malam ini, aku akan tunjukkan **siapa yang Kontol Irul pilih** untuk dikentot paling keras. Kau hanya bisa melihat dari jauh, **Jalang Jilbab!**" *(Yuliati mengubah hinaannya, menargetkan citra alim Fauziah)*
Ia segera mengirim pesan singkat rahasia kepada Irul: **"Meeting mendadak. Ruang arsip. Bawa kuncumu. Buktikan aku wanitamu, atau Fauziah akan tahu segalanya."** Ancaman itu bekerja. Bagi Irul, Bu Yuliati yang brutal jauh lebih menarik daripada Fauziah yang kelihatannya suci.
π RUANG ARSIP: HANTAMAN ANAL YANG DIPAKSAKAN
Irul dan Yuliati bertemu di ruang arsip kantor yang gelap dan berdebu, tempat di mana tidak ada yang pernah datang. Bu Yuliati sudah dalam posisi menungging di atas meja, roknya terangkat, p3nties-nya sudah di samping, menampilkan **lubang turuknya yang masih bengkak** dari penyiksaan di Gresik.
Irul mendekat, mencium bau silit Bu Yuliati, lalu bau **turuknya**. Ia menyadari betapa gilanya wanita ini.
**Irul (berbisik, sambil meludah ke tangannya):** "Kau mengancamku karena si Janda alim itu? Baik! **Aku akan mengentotmu di kantor ini, penuh dengan crotan**, sampai Fauziah bisa mencium baunya besok! **Kau adalah jalang turukku!**"
**Yuliati (suaranya bergetar antara marah dan nafsu):** "Ya! Lakukan! **Hantam turukku!** Buat aku berteriak! **Aku mau Fauziah mendengarnya!** Aku adalah wanita kotor yang kau cintai!"
Irul menghantamkan Kontol Pendeknya. Dorongan ini tidak dilandasi cinta, tapi **kebencian dan kemarahan**, menjadikannya yang paling brutal dari semua hantaman. **Benturan pinggulnya dengan meja arsip terdengar keras,** seolah memecah keheningan malam kantor. Bu Yuliati hanya bisa mencengkeram tumpukan dokumen, memohon Irul untuk menghantam lebih keras, seolah ingin menghukum dirinya sendiri dan Irul, sekaligus membuktikan kepada Fauziah bahwa ia adalah **ratu birahi** yang sesungguhnya.
π£ KLIMAKS DENDAM: CROTS DI ATAS ARSIP
Klimaks yang tiba di ruang arsip itu adalah campuran kenikmatan, dendam, dan putus asa. Saat Irul mengerang, **ia menumpahkan crotan terbesarnya** ke dalam **lubang turuk** Bu Yuliati, membanjiri bagian dalam anal Bu Yuliati hingga basah dan meluber ke permukaan pantatnya. **Baunya kental, panas, dan menyengat,** kontras dengan bau kertas-kertas tua di sekeliling mereka. Sebuah pernyataan total bahwa mereka telah menodai kantor itu.
Bu Yuliati ambruk ke tumpukan arsip, napasnya terengah. Ia merasa tercemar sepenuhnya, namun pada saat yang sama, ia telah memenangkan pertempuran melawan Hajah Fauziah. **Cairan Irul yang meluber dari turuknya adalah bukti kemenangannya.**
Irul mencabutnya, menatap Bu Yuliati, wajahnya penuh amarah dan kepuasan. **"Jangan pernah mengancamku lagi, jalang. Kau sudah tahu seberapa jauh aku akan membawamu,"** bisiknya, lalu pergi, meninggalkan Yuliati sendirian di ruangan gelap itu untuk membereskan sisa dosa mereka. Perjalanan birahi ini, layaknya hidup **Nomads**, penuh risiko dan kehinaan.
πΉ PEMBALASAN JANDA HAJAH: PERMAINAN TURUK DI RUANG KERJA
Setelah Bu Yuliati (41) dan Pak Irul menodai ruang arsip sebagai bentuk pernyataan perang terhadap **Hajah Fauziah** (45), janda alim itu tidak tinggal diam. Fauziah, yang telah 10 tahun menahan birahi, memiliki tubuh **tembem, manis, dan masih "enak dikentot."** Ia tahu, untuk mengalahkan Yuliati, ia harus merebut Kontol Pendek Irul, bukan sekadar mengancamnya.
π HAJAH FAUZIAH: TEMBEM, MANIS, DAN MENUNTUT
Pagi itu, Hajah Fauziah bersikap sangat manis dan patuh kepada Pak Irul. Ia mengenakan hijab panjangnya yang menutupi dada, namun rok dan blusnya menonjolkan **tubuh tembem berisi** yang justru terasa menggiurkan. Irul, yang selalu mencari kepuasan baru, merasakan tantangan dari Fauziah yang alim dan manis itu.
**Hajah Fauziah (sambil menyajikan kopi):** "Pak Irul, saya dengar Bu Yuliati sangat kelelahan setelah urusan arsip semalam. **Apakah Bapak tega** membiarkan janda alim yang harus bekerja keras seperti saya, Pak? Kapan-kapan, saya siap membantu Bapak menghilangkan stres setelah bekerja."
Kalimat itu adalah kode. Setelah Bu Yuliati keluar untuk urusan luar kantor, Irul memanggil Fauziah ke ruang kerjanya. **Fauziah mengunci pintu dengan gerakan tenang, lalu menarik hijab panjangnya sedikit ke belakang.** Irul melihat bibir manis janda itu tersenyum puas. Ia haus dan siap membalas perlakuan Bu Yuliati.
" loading="lazy"/>






Tidak ada komentar:
Posting Komentar