⚡ PELARIAN MANIAK DAN BISIKAN CABUL (BAB 5)
Ancaman dari **Fauziah**—sekretaris bermata tajam yang sebentar lagi menjadi istri Irul—tidak membuat Irul dan Yuliati mundur. Sebaliknya, ketegangan itu memicu tingkat **kemanikan** baru dalam hubungan terlarang mereka. Ketakutan akan terbongkarnya rahasia justru membuat birahi mereka makin membakar. Mereka tidak bisa lagi menunggu waktu luang; **setiap pertemuan harus dipuaskan dengan cepat, brutal, diringi bisikan paling cabul, dan di tempat yang tidak terduga.**
π DINAMIKA AIR MATA, CABUL, DAN BIRAHI 5 MENIT
Persetubuhan mereka kini menjadi ritual singkat yang didominasi oleh **rasa bersalah Yuliati yang eksplosif** dan **birahi Irul yang terangsang oleh kesakitan emosional itu**. Pertemuan pertama pasca-ancaman Fauziah terjadi di **ruang penyimpanan dokumen** yang sempit di kantor Irul, saat jam istirahat makan siang.
Begitu pintu terkunci, **Bu Yuliati**, si wanita sawo matang manis berhijab, langsung menangis. **Air mata bak mabuk birahi tingkat tinggi** itu membanjiri wajahnya. Yuliati tahu ia menghancurkan dirinya, namun gairah itu mengalahkan segalanya. Suaranya yang **lembut, hangat, dan basah** memohon ampunan, sambil tangannya merobek jas Irul.
"Aku tidak kuat, Mas! Aku harus berhenti! Aku mohon..." isak Yuliati, tubuhnya sudah merapat ke Irul. Tepat saat Irul mengunci pintu, Yuliati berbisik parau di telinganya, **"Cepat, masukkan rudal Pendekmu itu, aku mau dihancurkan, cepat, Mas... Aku sudah basah sekali, aku pelacur busukmu..."**
**Pak Irul**, yang pendek, rapi, dengan **dada berbulu** yang kini dibasahi air mata Yuliati, merasa adrenalinnya memuncak. **Air mata itu adalah fantasi terliarnya, bumbu paling pedas.** Irul menciumnya brutal, sementara bibirnya menempel di telinga Yuliati, **"Kau memang jalangku, Yul! Kau harus menjerit cabul hanya untuk kontol Pendekku ini! Ahh... sobek aku, Yul!"** Balas Irul, memasukinya dengan sekali hentakan.
"Hanya 5 menit, dan kita akan melupakan semuanya," bisik Irul dengan desahan berat.
**Hanya 5 menit.** Di ruang penyimpanan yang bau kertas, mereka melampiaskan semuanya. Cepat, kasar, tanpa ada waktu untuk romansa. Irul terangsang oleh betapa cepatnya Yuliati berubah dari ratapan menjadi desahan yang diiringi bisikan kotor. Begitu selesai, Yuliati merapikan hijabnya, air mata diseka, dan topengnya kembali dipasang, siap menghadapi dunia luar seolah tak terjadi apa-apa.
⏰ Koleksi Praktis: Kecepatan dan Efisiensi dari Aleo's Tube Store
Produk yang dirancang untuk kebutuhan mendadak dan sesi singkat nan intens.
π¨ PERMAINAN DI DALAM MOBIL DINAS DENGAN DESAHAN KOTOR
Kemanikan itu tidak berhenti. Beberapa hari kemudian, saat Irul beralasan sedang meninjau proyek di lokasi konstruksi, ia meminta Bu Yuliati datang. Tempat pertemuan mereka: **Mobil Dinas Irul**, yang diparkir di balik tumpukan material proyek. Di bawah terik matahari, dengan risiko terpergok pekerja kapan saja, ketegangan itu membakar gairah mereka lebih parah. **Bisikan cabul adalah satu-satunya pelampiasan yang diizinkan.**
Kembali, adegan dimulai dengan ritus yang sudah mapan. Bu Yuliati segera menangis. **Air mata bak mabuk birahi** membasahi pipi **sawo matang manisnya**. Saat tubuhnya dipaksa Irul ke jok belakang, Yuliati mulai berbisik parau disela isaknya, **"Jangan di sini, Mas... Kita bisa ketahuan! Tapi... aku suka, Mas! Aku jalang nakalmu! Hentak aku kasar di sini, biar semua tahu aku ini pelacur!"**
**Irul** menggeram, terangsang oleh **kebencian dan birahi yang memuncak**. Dia merobek kain Yuliati, menempelkan bibirnya di leher Yuliati, dan berbisik cabul, **"Nikmati ini, Yul! Jerit sepuasmu! Aku ingin rudalku ini menembusmu hingga kau lupa nama suamimu! Kau istri orang, tapi menjerit di bawahku! Kau jalang terhebat!"** Mereka menyelesaikan permainan 5 menit itu dengan penuh desahan kotor dan kata-kata cabul yang memuaskan fantasi terliar keduanya, sebelum kembali ke peran masing-masing, dengan aroma dosa dan keringat tertinggal di jok mobil.
⚠️ FAUZIAH: SAKSI YANG TAK TERLIHAT
Namun, di tengah kegilaan dan kecepatan ini, **Fauziah** bergerak dalam bayangan. Ia mulai mencatat jam-jam "perjalanan bisnis" Irul yang mencurigakan, pesan-pesan kode tentang "cabai", dan perubahan drastis pada Yuliati. Fauziah tidak lagi mengirim ancaman; ia mulai mengumpulkan bukti, menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan bom tersebut. **Pelarian maniak Yuliati dan Irul telah menarik perhatian yang paling berbahaya, dan kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.**
π¨ PERANG DIMULAI! FOTO PANAS DALAM AMPLOP COKELAT
Keesokan harinya, suasana di kantor terasa sangat dingin. **Fauziah**, dengan mata tajam dan senyum yang terlalu tenang, menghampiri meja **Pak Irul**. Ia meletakkan sebuah **amplop cokelat tebal** di atas tumpukan berkas Irul tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu berlalu begitu saja.
Irul membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, terdapat serangkaian foto yang diambil dari jarak jauh, buram, tetapi cukup jelas memperlihatkan **Bu Yuliati** dan dirinya di jok belakang mobil dinas. Di foto lain, terlihat Yuliati merapikan hijabnya di ambang pintu ruang penyimpanan dokumen. **Bukti sudah di tangan Fauziah.**
π₯Ά BIRAHI DALAM BAYANGAN KEHANCURAN
Irul segera memanggil Yuliati ke ruangannya, menutup pintu rapat-rapat. **Ketakutan itu kini jauh lebih besar daripada birahi.** Yuliati melihat foto-foto itu dan wajahnya yang **sawo matang manis** langsung memucat. Air mata memang muncul, tapi kali ini bukan **Air Mata Birahi**—ini adalah air mata ketakutan murni. **Fauziah telah berhasil menjebak mereka.**
"Kita hancur, Yul! Kau lihat? Dia tahu segalanya!" bisik Irul parau. Ironisnya, ancaman nyata kehancuran ini memicu desakan birahi yang lebih gila dari sebelumnya. Mereka tahu ini bisa jadi yang terakhir, dan mereka harus melampiaskannya, sekarang.
**Bu Yuliati (berbisik, suaranya tercekat):** "Aku takut, Mas... tapi aku ingin! Aku ingin kau masukkan **Kontol**-mu sekarang! Kita akan dihancurkan, jadi biarkan kita hancur sambil **crot**! Cepat, Irul... perkosa aku! **Jalangmu ini siap mampus!**"
**Pak Irul (menggeram, matanya liar):** "Kau memang pelacur iblis, Yul! Kau membuatku gila! Kita akan berakhir disini! Biar Fauziah melihat kita bangsat! **Hanya 3 menit! Aku akan menghantammu turukmu hingga kau menjerit ampun!**"
Di ruangan itu, dikelilingi oleh bayangan Fauziah dan ketakutan akan aib, mereka melakukan persetubuhan paling tegang dan berbahaya. Mereka berbisik kotor tentang foto-foto itu, tentang Fauziah, menggunakan keputusasaan mereka sebagai bumbu yang paling memabukkan. **Persetubuhan 3 menit yang brutal, diakhiri dengan air mata keputusasaan.**
⚡ Kecepatan dan Ketenangan: Solusi Cepat dari Aleo's Tube Store
Produk yang dirancang untuk sesi tegang di bawah tekanan. Beli sekarang, sebelum terlambat!
⚔️ PERTEMPURAN TERAKHIR: SENYUM KEMENANGAN FAUZIAH
Setelah merapikan diri, Yuliati dan Irul keluar dengan wajah pucat, kembali memasang topeng profesional mereka. Mereka tahu, permainan sudah berakhir. Ketika Irul kembali ke mejanya, ia menemukan sebuah kertas kecil diselipkan di bawah keyboard.
**"Temui saya di gudang lama. Malam ini. Sendirian. Bawa surat pengunduran diri Yuliati. Jika tidak, foto-foto ini akan ada di meja Rektor besok pagi. Salam manis, calon istri Anda."**
Pesan dari **Fauziah** ini adalah pukulan telak. Fauziah tidak hanya ingin Irul; ia ingin **menghancurkan karir Yuliati** dan menghilangkan rivalnya. Yuliati, yang kini melihat Irul hanya sebagai **Kontol Pendek** yang akan segera menjadi milik Fauziah, merasa amarahnya memuncak. Pelarian birahinya telah berakhir, digantikan oleh **naluri bertahan hidup.**
Malam itu, Irul harus memilih: menyelamatkan dirinya sendiri, atau mencoba melindungi Yuliati.**







Tidak ada komentar:
Posting Komentar