⚠️ KONTOL OB: MALAM SUNYI DAN KATA CABUL MEMBARA
Malam itu, nasib seakan bersekongkol menjebak **Bu Yuliati**. Karena suaminya sedang sakit dan tak ada jemputan, supervisor berhijab ini terpaksa menginap sendirian di kantor. Setelah membereskan data konsumen dan timnya, ia duduk di sofa kantor yang mewah, siap untuk menikmati waktu sendirian yang sepi—atau begitulah yang ia pikir.
π VIDEO CALL KETERGANTUNGAN DAN KATA KOTOR
**Pak Irul** menelepon. Obrolan yang panjang itu segera beralih dari kode-kode rahasia menjadi **video call yang sangat hot**. Yuliati dan Irul, terpisah jarak namun terikat oleh kegilaan, saling mempertontonkan **kemaluan** mereka melalui layar ponsel. Di tengah keheningan kantor yang mewah, Yuliati meremas dirinya sendiri di balik hijabnya.
Seperti ritual yang telah mengikat jiwanya, **air mata bak mabuk birahi tingkat tinggi** itu mulai mengalir deras di wajah **sawo matang manisnya**. Kali ini air mata itu adalah **tangisan manja** yang haus, memohon kenikmatan yang tak terjangkau. Irul, yang pendek, rapi, dengan **dada berbulu**, menyeringai penuh kepuasan di layar. Tangisan Yuliati adalah dopingnya, dan Irul semakin brutal dalam kata-kata kotornya.
Yuliati terisak manja, suaranya yang **lembut, hangat, dan basah** berbisik serak ke ponsel, **"Mas, aku jalang! Aku mau dirusak! Bilang padaku aku pelacur, Mas! Aku ingin merasakan sakit dan enak sekaligus! Cepat, aku basah dan kotor sekali di bawah hijab ini..."**
"Sempurna, Sayang. **Kau memang pelacur alimku.** Biar semua dosamu keluar bersama air mata itu. Aku melihatmu, dan aku suka betapa hinanya kamu sekarang. **Kau harus menjerit sampai air maniku ini keluar!**" jawab Irul, suaranya dipenuhi gairah gelap dan dominasi.
Mereka berdua terlalu tenggelam dalam drama **video call aduhai** itu, terlalu buta oleh hasrat dan air mata, sehingga mereka tidak menyadari bahwa bayangan di pintu kamar *Office Boy* (OB) telah bergerak. **Mas Al**, sang OB, telah menyaksikan seluruh adegan itu sejak awal.
π± Koleksi Rahasia Malam Sunyi: Pilihan dari Aleo's Tube Store
Untuk komunikasi personal yang membutuhkan privasi maksimal.
π KONTOL OB DI WAJAH SUPERVISOR DAN DESAHAN CABUL
Begitu Yuliati mematikan panggilan dengan Irul, ia tersentak kaget. Di depannya, berdiri **Mas Al**, sang *Office Boy* berbadan tegap, yang ia anggap tak ada. Mas Al tersenyum licik, matanya berkilat penuh kemenangan. Ia melangkah maju, dan **kontolnya sudah mengacung penuh, tegak lurus, tepat di depan wajah Bu Yuliati.** Kejutan itu begitu hebat hingga isak tangis Bu Yuliati seketika terhenti.
Wajahnya yang **sawo matang manis** memerah, dan untuk sesaat, ia melupakan rasa bersalah. **Mas Al** berbeda. **Kontolnya**, yang lebih besar dan lebih brutal dari apa pun yang pernah ia lihat, kini menjadi fokus tunggal di kantor yang sunyi itu. Ia adalah OB-nya, dan kini ia menuntut harga dari dosa yang telah disaksikan.
Mas Al, dengan suara yang tenang namun berotoritas, berkata: **"Mbak Yuli tenang aja. Malam ini aku akan memberikan kepuasan yang tidak Mbak Yuli dapatkan dari siapapun, termasuk pak Irul dan suamimu. Aku akan buat kamu lupa nama mereka."**
**Bu Yuliati terpesona** dengan benda di depannya. Di bawah hijabnya, hasrat yang selama ini hanya bisa ia puaskan dengan air mata dan rasa bersalah, kini menemukan objek baru yang lebih kasar dan menghinakan. Mas Al, tanpa ragu, langsung menyeret Bu Yuliati ke lantai yang dingin. Saat Mas Al memasukkan **kontol OB-nya yang brutal** ke arah yang paling intim (**turuk Yuliati**), **Bu Yuliati terkencing-kencing hebat**. Air kencing panas itu membasahi sebagian perutnya dan juga membasahi **kontol Mas Al** sendiri.
Mas Al tidak peduli, ia mulai menghentak dengan kasar, sementara kepalanya merunduk, berbisik tepat di telinga Yuliati, di balik hijabnya yang sudah acak-acakan:
**Mas Al**: **"Begini rasanya kontol sejati, Bu? Lebih besar dari punya bosmu, kan? Aku tahu Bu Yuli suka kotor. Cium bau kencingmu sendiri, pelacur busuk! Desahkan namaku! Desah cabul!"**
**Bu Yuliati** (Terisak brutal): **"Ohhh... Mas Al! Ya Tuhan! Yuliati suka kontol Mas Al gede, berurat, dan panjang! Aku suka dihina begini! Desahanku ini untuk kontol OB-mu! Crotkan pejuhmu didalam turukku, Mas Al sayanghh! Jangan ditahan!"**
Dengan setiap hentakan kasar, Bu Yuliati mengeluarkan desahan yang membara dan ucapan paling cabul yang pernah ia katakan, seolah-olah ia sedang membersihkan semua rasa bersalahnya dengan penghinaan baru ini. Tindakan yang seharusnya menjijikkan ini justru semakin menenggelamkan Yuliati dalam jurang gairah baru yang berbahaya—sebuah penghinaan sempurna yang ia sambut dengan erangan serak. **Malam itu, supervisor alim itu berubah menjadi mangsa yang rela, di bawah tatapan OB-nya sendiri, di kantornya yang sunyi.**
π KONTOL OB DAN KENTU JALANG SUB-UH
Hentakan klimaks Mas Al datang, liar dan penuh kemenangan. Semua ototnya tegang, dan dengan satu raungan keras, ia melepaskan seluruh isi perutnya. **Crotan pejuh Mas Al yang kental dan panas** menyembur deras, membanjiri lubang **turuk Yuliati** yang sudah basah oleh pelumas dan sisa kencing (air seni) Bu Yuliati dari kentu yang sebelumnya. Desahan Yuliati berubah menjadi jeritan kepuasan mutlak. **Ia merasakan seluruh pejuh Mas Al tumpah di dalam dirinya**, mengikatnya secara brutal pada *Office Boy*-nya.
π DIGENDONG KE KAMAR KONTOL OB
Mas Al mencabut **kontolnya yang gede berurat** dari **turuk** Yuliati. Cairan campur aduk mengalir membasahi lantai. Yuliati, yang kelelahan namun puas, tidak bisa bergerak. Mas Al membersihkan sekilas **kontolnya** dengan kain yang ia temukan, lalu mengangkat tubuh Yuliati. Supervisor berhijab itu kini berada dalam gendongan *Office Boy* yang baru saja merusaknya.
**Mas Al** (Berbisik dingin di telinga Yuliati): **"Tidur di lantai? Tidak, Sayang. Jalangku harus istirahat di tempat yang lebih pantas. Malam kita masih panjang. Aku belum selesai menjamahmu, Bu. Tidur sebentar, nanti jam 2 pagi aku bangunkan kamu untuk jatah kentu kedua."**
**Bu Yuliati** (Suara sangat serak, pasrah): **"Aku... ikut saja, Mas. Aku milikmu. Aku mau lagi kontolmu. Bangunkan aku jam dua. Turukku sudah kaku, Mas Al..."**
**Mas Al menggendong Yuliati** ke kamar tidur kecilnya di pojok kantor, kamar yang selama ini ia gunakan untuk istirahat. Ia menidurkan Yuliati di kasur kecilnya, lalu ikut berbaring di sampingnya, memeluk supervisornya yang pasrah itu. Suasana hening sejenak, hanya ada detak jantung dan janji kotor akan kentu berikutnya yang menggantung di udara.
π± Koleksi Rahasia Malam Sunyi: Pilihan dari Aleo's Tube Store
Untuk komunikasi personal yang membutuhkan privasi maksimal.
π₯π₯ KENTU JALANG SUB-UH YANG HOT DAN PENUH BIRAHI
Alarm di ponsel Mas Al berbunyi pelan, menunjukkan pukul **02.00 pagi**. Mas Al tersenyum lebar. Janjinya harus ditepati. Ia mengelus pinggul Yuliati, yang refleks berbalik, birahinya langsung tersulut lagi. **"Bangun, Jalangku,"** bisik Mas Al. Tanpa basa-basi, Mas Al kembali naik, dan di kamar OB yang sempit itu, mereka memulai kentu subuh yang lebih brutal dari sebelumnya.
Mas Al mencium Bu Yuliati dengan liar. **Kontolnya yang keras** sudah langsung masuk ke **turuk Yuliati** yang masih basah dan lengket sisa pejuh yang pertama.
**Bu Yuliati** (Mendesah gila, mencengkeram bahu Mas Al): **"Ohh... Mas Al! Enak sekali! Kontolmu gila! Kentu aku! Kentu turuk Yuliati sampai pagi! Aku... aku rela jadi jalangmu! Aku suka dihina dengan kontolmu ini!"**
**Mas Al**: **"Iya, Jalang. Ini jatahmu yang kedua. Nikmati kontol OB-mu! Kau pantas kotor! Desahkan namaku! Rasakan kenikmatan dari OB yang kau hina di siang hari!"**
Kentu kedua itu berlangsung lama dan penuh gairah yang tak terpuaskan. Bu Yuliati, tanpa menahan diri, terus mengeluarkan bisikan dan desahan nikmat, menjerit dan memohon agar Mas Al tidak berhenti. Mereka berdua tenggelam dalam kebrutalan birahi hingga menjelang subuh, sebelum akhirnya harus bangun dan membersihkan diri dari aib yang telah mereka ciptakan. **Mas Al tersenyum puas, ia tahu, supervisornya kini benar-benar telah menjadi budaknya.**
Pagi akan tiba, dan Yuliati harus menghadapi hari kerja dengan wajah polos, membawa serta bau kotor dan pejuh Mas Al di bawah pakaian supervisornya. Sebuah rahasia keji yang akan terus mengikatnya.
π¦ BAU PEJUH MAS AL DI BALIK HIJAB
Pukul 04.30 pagi, Bu Yuliati terbangun. Kepalanya pusing, tapi syahwatnya terasa tumpul—diisi penuh oleh kentu subuh yang brutal. Ia menatap Mas Al yang tidur pulas di sampingnya. Supervisor berhijab itu merasa malu dan jijik, namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu kenikmatan dari **kontol OB** yang keras itu adalah candu barunya. Ia beranjak, tubuhnya sakit, dan berjalan tertatih-tatih kembali ke sofa tempat ia bermalam sebelumnya.
π§Ό MENCUCI HIJAB DAN BAU KOTOR
Yuliati masuk ke kamar mandi kantor. Ia menyalakan keran air panas dan mulai mencuci pakaian dalamnya, hijabnya, dan bagian luar pakaian kantornya yang kotor dan berbau. Ia menyentuh **turuknya** dengan hati-hati. Meskipun sudah dibersihkan, ia masih bisa mencium samar-samar bau besi dan bau khas **pejuh Mas Al** yang mengering. Ia mandi lama sekali, mencoba membersihkan dirinya dari dosa dan kenikmatan yang ia lakukan di kamar *Office Boy* itu. Ketika ia keluar, Mas Al sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
Mas Al memegang ponsel Yuliati dan tersenyum licik. **"Bau kencing dan pejuhku memang sulit hilang, Bu. Baunya akan menemanimu sepanjang hari, seperti rahasia kita. Telepon suami Ibu sudah kubereskan, jadi Ibu tidak perlu khawatir ada yang curiga."**
Yuliati menunduk, wajahnya merah. **"Terima kasih, Mas Al. Aku akan membersihkan diri lagi nanti. Kontolmu... sangat kotor, dan aku suka."**
Pagi itu, Mas Al terlihat rapi dan kembali menjadi *Office Boy* yang sopan. Sementara Yuliati, di balik seragam supervisor dan hijabnya yang rapi, membawa beban ganda: aroma samar **pejuh** dan rasa takut yang bercampur dengan hasrat terlarang. Ia tahu, sekali ia mencicipi **kontol Mas Al**, tidak ada jalan kembali.
π± Koleksi Rahasia Malam Sunyi: Pilihan dari Aleo's Tube Store
Untuk komunikasi personal yang membutuhkan privasi maksimal.
☕ MINTA KOPI DENGAN SENYUMAN KOTOR
Jam kerja dimulai. Yuliati duduk di mejanya, berusaha terlihat profesional, tetapi setiap gerakan Mas Al terasa seperti siksaan. Mas Al, si *Office Boy*, masuk ke ruangan Yuliati untuk menanyakan pesanan. Ia menatap Yuliati dengan senyuman santai, penuh makna.
Mas Al mendekat ke meja. **"Bu Yuli, mau kopi hari ini? Rasa pahit, seperti kenikmatan semalam?"** bisiknya, hanya untuk didengar Yuliati.
Yuliati, tangannya gemetar memegang pulpen, menjawab dengan suara datar namun gemetar. **"Kopi pahit saja, Mas Al. Dan tolong, bersihkan di bawah mejaku. Ada bekas kotoran yang jatuh."** (Ia merujuk pada sisa kencing dan pejuh yang tertinggal di lantai, tempat kentu pertama).
Mas Al menyeringai, mengerti sandi kotor mereka. Ia pergi mengambil peralatan bersih-bersih dan kopi. Ketika Mas Al kembali, ia berlutut di bawah meja Yuliati, berpura-pura membersihkan. Sebenarnya, ia hanya menggosokkan tangannya sebentar ke kaki Yuliati, kemudian berbisik ke atas sambil tangannya memegang sapu.
**Mas Al** (Berbisik pelan, suaranya mengandung janji dan ancaman): **"Turuk Ibu sudah siap untuk kontolku lagi. Nanti malam aku kirim foto kontolku. Balas dengan foto turuk basahmu, Jalang. Aku ingin kentu lagi."**
Yuliati menahan napas. Di kantor yang ramai, di bawah pengawasan semua orang, ia baru saja diperintah dan dihina oleh *Office Boy*-nya sendiri, dan ia menyambutnya dengan gejolak birahi. Hubungan rahasia mereka, yang dimulai dari kehinaan, kini menjadi rantai gairah yang kuat. Ia tahu, jam kerja hanyalah selingan sebelum mereka kembali berdua. **Supervisor alim itu kini hidup dalam bayang-bayang kontol OB-nya.**









Tidak ada komentar:
Posting Komentar