Senyum Asalina: Bahan Bakar Semangat Ayah di Perantauan
Ilustrasi: Doa tulus Asalina untuk Ayah di perantauan.
Di sebuah jalanan paving blok yang tenang, seorang gadis kecil bernama Asalina duduk tegak di atas motor trail kecilnya. Senyumnya merekah lebar, memamerkan deretan gigi yang rapi dan binar mata yang penuh energi. Mengenakan kaos merah bertuliskan "Indonesia", ia tampak seperti pahlawan kecil bagi ayahnya yang kini sedang berjuang mengadu nasib sebagai kaum perantau.
Bagi sang ayah, foto Asalina di atas motor trail itu bukan sekadar gambar. Itu adalah jimat semangat. Di tengah lelahnya pekerjaan dan dinginnya malam di tanah rantau, melihat Asalina yang tumbuh menjadi anak pintar dan rajin ibadah adalah kemewahan yang tak ternilai. Ayah sering berbisik pada foto putrinya di layar ponsel, "Tunggu Ayah pulang ya, Nak. Semua lelah ini untuk masa depanmu."
Asalina bukan sekadar anak yang ceria; ia adalah pengingat bahwa di rumah ada doa yang tak terputus. Setiap sujudnya, ada nama Ayah yang disebut. Kepintarannya di sekolah dan ketaatannya pada agama menjadi bukti bahwa jarak tidak menghalangi didikan kasih sayang. Inilah motivasi terbesar bagi setiap ayah: memiliki putri yang shalihah adalah harta yang lebih besar dari gaji berdigit besar sekalipun.
DI SHARE YA BIAR TAMBAH SEMANGAT BIKIN CERITA DLL!


Ruang Diskusi (Pro & Kontra):
Promotor: "Kisah Asalina ini bukti bahwa doa anak shalihah adalah kekuatan utama orang tua di rantau. Luar biasa!"
Pengunjung A: "Tapi kasihan juga anaknya, tumbuh besar tanpa kehadiran fisik ayah setiap hari. Apa uang bisa mengganti waktu yang hilang?"
Pengunjung B: "Kadang keadaan memaksa, yang penting komunikasi dan kualitas pertemuan tetap terjaga. Semangat para Ayah!"